Tugas, Perhatikan wajah
anda, ceritakan sesuai dengan apa yang anda inginkan!
Nama saya Nuning Surya Lestari saya memiliki wajah
berbentuk bulat, hidung pesek, bibir tipis, rambut lurus dan panjang, mata
bulat serta retina berwarna kecoklat-coklatan, bulu mata berukuran 1 cm, alis
tebal, kening yang lebar serta pipi tembem. Semua ini merupakan anugrah Tuhan
yang telah Dia karuniakan kepada saya.
Tuhan menciptakan hidung yang pesek dan berlubang dua berfungsi
untuk menghirup nikmat udara yang segar. Di dalam hidung terdapat rambut-rambut
hidung berfungsi untuk menyaring udara dalam proses pernafasan. Dengan hidung
inilah saya dapat menikmati kesegaran udara, dan mencium sagala aroma maupun
bau yang ada di sekitar saya. Manusia merupakan makhluk sosial. Oleh sebab itu
dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berkomunikasi baik dengan sesama
manusia, lingkungan dan Tuhan. Maka dengan nikmat yang Tuhan berikan mulut dan bibir inilah saya gunakan untuk
berkomunikasi.
Rambut merupakan mahkota bagi kaum hawa, saya dikaruniai
rambut lurus dan panjang serta berwarna pirang. Mata adalah alat indra yang
berfungsi untuk melihat keindahan yang ada di sekitar saya. Saya memiliki mata
yang berbentuk bulat serta retina yang berwarna kecoklat-coklatan. Merupakan
nikmat Tuhan yang tak ada tandingannya, karena dengan mata saya dapat melihat
keindahan dunia ini. Pada kelopak mata saya terdapat bulu mata berukuran 1cm dan alis yang tebal berfungsi untuk menjaga
agar keringat tidak masuk ke dalam mata.
Pipi yang tembem dan tidak berjerawat, serta kening yang
lebar dan dua pasang telinga yang berfungsi untuk mengkap informasi, guna
untuk menambah ilmu pengatahuan saya. Telinga inilah alat indra yang
paling berperan dalam pemerolehan informasi, tanpa adanya telinga manusia
sulit untuk mendapatkan informasi, karena menurut pepatah lebih baik banyak
mendengar dari pada banyak berbicara.
Selain itu saya memiliki tahi lalat di hidung, dekat
mulut, bawah mata, dagu, dan kening. Tahi lalat yang saya miliki tidaklah
berukuran besar, tahi lalat ini berfungsi untuk memberi hiasan pada wajah saya.
Tahi lalat dapat dijadikan tanda atau ciri-ciri pengenal seseorang. Segala
sesuatu yang telah Tuhan ciptakan kepada mahkluk-Nya adalah hal yang terbaik
untuknya.
ANALISIS
STILISTIKA MANTARA PEMGOBATAN PADA MASYARAKAT MELAYU DESA KEBUN DURIAN KECAMTAN
GUNUNG SAHILAN
Oleh:
Gisgha Occi Yanda
NPM:
086211532
1.Latar
Belakang dan Masalah
1.1Latar
Belakang
Mantara ialah perkataan
yang memiliki kekuatan ghaib (misal dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka,
dan sebagainya).
Alasan peneliti
melakukan penelitian ini karena bahasa yang dipakai dan yang terdapat dalam
mantra bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dipahami dan dimaknai.
Penelitian ini merupan penelitan lanjutan setelah,
penelitian yang dilakukan oleh:
(1)Roziah
(2008) FKIP UNRI dengan judul “ Mantra Berladang Padi Masyarakat Melayu Desa
Bantan Air Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis (Sebuah Kajian Stilistika)”.
Masalah penelitianya adalah bagaimana bunyi mantara-mantara berladang padi dan
implikasi mantara berladang padi pada Masyarakat Melayu Desa Bantan Air
Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis terhadap pengajaran bahasa Indonesia?,
hasil penelitianya menyatakan mantara kaya akan rima, aliterasi, asonansi, dan
anakora. Persamaan penelitian Roziah dengan peneliti adalah sama-sama membahas
tentang stilistika. Perbedaanya adalah objek yang dikaji oleh Roziah Mantra
Berladang Padi Masyarakat Melayu Desa Bantan Air Kecamatan Bantan Kabupaten
Bengkalis, sedangkan objek kajian peneliti mantara pemgobatan pada masyarakat
Melayu Desa Kebun Durian Kecamtan Gunung Sahilan.
(2)Citra
Maya Sari (2012), “ Analisis stilistika Gurindam Dua Belas karya raja Ali Haji”
FKIP UIR. Msalah penelitiannya yaitu, (1) Makna pasajah yang terdapat dalam
Gurindam Dua Belas Karya Raja Ali Haji ?, (2)Gaya bahasa apakah yang terdapat di dalamDua Belas karya raja Ali Haji ?. hasil
penelitiannya menyatakan stilistika mengandung dua unsur yaitu makna kata dan
gaya bahasa persamaan penelitian: sama-sama membahas tentang kajian stilistika.
Perbedaan ya objek yang dikaji Gurindam Dua belas Karya Raja Ali Haji dan makna
denotatif dan makna gramatikal Gueindam Dua Belas Raja Ali Haji, sedangkan objek
kajian peneliti Pengobatan Pada Masyarakat Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan
Gunung Sahilan, serta meneliti makna gramitikal dan makna leksikal Pada
Masyarakat Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan.
Manfaat
teoritis dan Praktis
(1)Manfaat
Teoretis
Secara teoretis penelitian ini dapat
memberikan sumbangan wawasan dan pengetahuan tentang teori-teori sastra
khususnay yang berkaitan dengan teori stilstika yang diterapkan pda mantra
sebagai puisi. Selain itu, untuk menambah pengetahuan peneliti tentang bahasa
sastra dan stilistika.
(2)Manfaat
praktis
Untuk
Guru bahasa dan sastra Indonesia dalam proses belajar-mengajar dan dapat
dijadikan bahan informasi dalam pengajaran bahasa Indonesia dan juga dapat
memperluas pengetahuan penulis pada gaya bahasa dalam sastra.
1.1.2 Masalah
(1)
Bagaimanakah makna leksikal yang terdapat pada Pengobatan Pada Masyarakat
Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan?
(2)
Bagaimanakah makna gramatikal yang terdapat pada Pengobatan Pada Masyarakat
Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan?
1.2Tujuan
penelitian
(1) Untuk mengetahui makna leksikal yang
terdapat pada Pengobatan pada Masyarakat
Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan.
(2)
Untuk mengetahui makna leksikal yang terdapat pada Pengobatan Pada Masyarakat
Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan.
1.3Teori
1.Kajian
stilistika mencakup aspek (a) bunyi atau fonologi, (b) penggunaan perkataan,
diksi, leksikal, (c) struktur sintaksis, (d) makna, (e) gaya bahasa dan (f) gaya
penulisan (Sikana dalam Shomary, 2011:8)
2.Makna
leksikal adalah makna yang dimiliki atau ada pada leksem meski tanpa konteks
apa pun (Chaer, 2007:29). Pendukung tersebut didukung juga oleh Djaja sudarma,
2009:16 yang menyatakan, semua makna (baik bentuk dasr maupun bentuk turunan)
yang ada dalam kamus disebut makna leksikal. Nurgiantoro 2010:290 menambahkan “Leksikal
yang dimaksud sama pengertianya dengan diksi, yaitu yang mengacu pada
pengertian penggunaan kata-kata tertentu yang sengaja dipilih oleh pengarang.”.
3.Menurut
Depdiknas “ gramatikal adalah sesuai dengan tata bahasa, menurut tata bahasa”
(Depdiknas, 2008:461). Djajasudarma (2009:16) menyatakan, “makna gramatikal
adalah makna yang menyangkut hubungan intera bahasa, atau makna yang muncul
sebagai akibat berfungsinya sebuah kata di dalam kalimat”.
1.4Teknik
Penelitian
1.4.1Teknik Pengumpulan Data
Untuk mempermudah dalam
memperoleh dan mengumpulkan data penelitian, maka penulis menggunakan teknik
pengumpulan data: observasi, wawancara, rekaman, catat atau pencatatan.
1.4.2Teknik analisis Data
(1)Menranskipsikan
keseluruhan data dari bahasa lisan ke bahasa tulisan untuk mempermudah dalam
mengelola data;
(2)Data-data
yang sudah ditranskripsi, penulis translitasikan dari bahasa daerah ke dalam
bahasa Indonesia;
(3)Mengklasifikasikan
data-data tersebut sesuai dengan unsure-unsur stilistika yang terdapat dalam
mantra pengobatan yaitu makna leksikal dan makna gramatikal;
(4)Menganalisis
data tersebut berdasarkan teori yang relevan;
(5)Menyimpulkan
hasil analisisdari mantra pengobatan di desa pengobatanpada Masyarakat Melayu Desa Kebun Durian
Kecamatan Gunung Sahilan.
1.5Hasil
Penelitian
(1)Terdapat
Makna leksikal dalam mantra leksikl dalam mantra pengobatanp Pada Masyarakat
Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan 61 kata.
(2)Terdapat
makna gramatikal Pada Masyarakat Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan
17 kata.
1.6Kesimpulan
(1)Pada
makna leksikal, pada mantra Masyarakat Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan
Gunung Sahilan terdapat nomina, verba dan ajektiva.
(2)Pada
makna gramatikal mantra Masyarakat Melayu Desa Kebun Durian Kecamatan Gunung Sahilan
maknanya mayoritas mengarah pada penjelasan dan tujuan dari mantra pengobatan
tersebut. Namun, tidak semua kata dalam tiap mantra memiliki kata yang bermakna
gramatikal.
DaftarPustaka
Yanda,
Gisgha Occi. 2013. “ Analisis Stilistika Mantra Masyarakat Melayu Desa Kebun
Durian Kecamatan Gunung Sahilan”. Skripsi. Pekanbaru: Program Strata satu
Universitas Islam Riau.
Bagi siapa mempunyai watak pemarah, hendaknya ia melihat dirinya sendiri saat ia sedang marah. jika ia tidak sanggup melihat dirinya sendiri saat ia marah, seharusnnya ia menghindarinya.
Rasulullah menjadikan orang yang dapat menahan dirinya saat emosi sebagai orang yang kuat. Abu Hurairah r.a meriwayatkan ahwa rasulullah bersabda, "Bukanlah orang kuat itu orang yang kuat dalam perkelahian, tapi sesungguhnya orang kuat itu adalah orang yang dapat menahan dirinya saat marah.
Cara mengobati kemarahan sangat mudah bagi orang yang dimudahkan Allah, yang terdiri dari dua macam yaitu Lahiriyah dan Maknawiyah.
1. Lahiriyah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk pada saat timbul emosi.
b. Mengubah posisi dari posisi ketika ia marah. Apabila saat ia berdiri, hendaknya ia duduk, dan apabila duduk, maka hendak ia berbaring.
c. Berusaha untuk diam ketika emosi.
2. Maknawiyah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:
a. Menghadirkan dihati, pujian Allah bagi orang-orang yang menahan amarah di dunia, serta apa-apa yang dijanjikan bagi mereka daripada pahala yang besar di akherat.
b. Segera mengingat bahwa setanlah yang mendorong amarahnya dan yang mendukungnya.
c. Mengingat bahwa jika meneruskan amarahnya justru akan menambah kedengkian dan kebencian, sehingga ia akan menyesal dan menimbulkan rasa dendam.
d. Mengekang nafsu. Sesungguhnya orang yang kuat itu adalah orang yang mampu menahan nafsu amarahnya.
Menyikapi Keburukan Akhlak Orang Lain dengan Bijak (Al-Mudaaraat)
Al-Mudaaraat adalah salah satu perantara utama untuk mengambil hati yang berpaling dan menghilangkan permusushan sekaligus mengubahnya menjadi persahabatan dan kasih sayang. sifat ini berpulang kepada perkataan baik, mengakrabkan perjumpaan (ramah-tamah) serta menghindarisegala sesuatu yang dapat menyebabkan hati berpaling dan menyebabkan kemarahan orang yang mempunyai perangai tidak wajar, atau dari orang yang diduga akan dapat menyakiti.
Nabi seringkali melakukan Mudaaraat terdapat orang yang berprilaku demikian. diriwayatkan oleh Aisyah bahwa seorang laki-laki meminta izin kepada nabi untuk dapat bertemu dengannya, maka nabi bersabda, "Izinkan dia, alangkah buruknya anak dari Bani 'Asyirah!" atau "Betapa buruk lelaki dari Bani 'Asyirah". Lalu ketika orang tersebut masuk, Nabi melembutkan kata-katanya kepadanya.
Aisyah r.a berkata, "Aku mengatakan, "Wahai Rasulullah, engakau telah katakan sesuatu tentangnya sebelumnya apa yang telah engkau katakan sesuatu tentangnya sebelumnya apa yang telah engkau katakan, tapi kemudian engkau melembutkan kata-kata engkau kepadanya?". Nabi bersabda, " wahai Aisyah, sesungguhnya orang yang paling buruk derajatnyaq disisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan orang lain karena takut akan keburukan/kejahatannya."
Al-Muhajir bin Abdullah mengatakan,
Kujauhi seorang tanpa ada kebencian
Dengan sengaja kudekati saudara yangb penuh kebencian
Agar ada kecintaan setelah kebencian
Atau ketunjukkan kepadanya sebuah pertarungan, biar Allah