Senin, 05 Mei 2014

Tafsir Surat Al-Fatihah Ayat Ke 6



Nama   : Nuning Surya Lestari
NPM   : 116210123
Kelas   :6E
M.K     : Semantik
Soal,
Mengapa di dalam surah Al-fatihah ayat 6 bermakna tunjukkilah kami jalan yang lurus, bukan jalan yang benar?,
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, ”Jalan yang lurus ini adalah jalannya orang-orang yang diberi kenikmatan khusus oleh Allah, yaitu jalannya para nabi, orang-orang yang shiddiq, para syuhada dan orang-orang shalih. Bukan jalannya orang yang dimurkai, yang mereka mengetahui kebenaran namun sengaja mencampakkannya seperti halnya kaum Yahudi dan orang-orang semacam mereka. Dan jalan ini bukanlah jalan yang ditempuh orang yang sesat; yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran karena kebodohan dan kesesatan mereka, seperti halnya kaum Nasrani dan orang-orang semacam mereka.” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 39).
اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ
Artinya: “Tunjukilah Kami jalan yang lurus.”
Maknanya: “Tunjukilah, bimbinglah dan berikanlah taufik kepada kami untuk meniti shirathal mustaqiim yaitu jalan yang lurus.” Jalan lurus itu adalah jalan yang terang dan jelas serta mengantarkan orang yang berjalan di atasnya untuk sampai kepada Allah dan berhasil menggapai surga-Nya. Hakikat jalan lurus (shirathal mustaqiim) adalah memahami kebenaran dan mengamalkannya. Oleh karena itu ya Allah, tunjukilah kami menuju jalan tersebut dan ketika kami berjalan di atasnya. Yang dimaksud dengan hidayah menuju jalan lurus yaitu hidayah supaya bisa memeluk erat-erat agama Islam dan meninggalkan seluruh agama yang lainnya. Adapun hidayah di atas jalan lurus ialah hidayah untuk bisa memahami dan mengamalkan rincian-rincian ajaran Islam. Dengan begitu do’a ini merupakan salah satu do’a yang paling lengkap dan merangkum berbagai macam kebaikan dan manfaat bagi diri seorang hamba. Oleh sebab itulah setiap insan wajib memanjatkan do’a ini di dalam setiap rakaat shalat yang dilakukannya. Tidak lain dan tidak bukan karena memang hamba begitu membutuhkan do’a ini (lihat Taisir Karimir Rahman, hal. 39).
Pimpinlah kami ke jalan yang lurus.
Shirath dapat dibaca dengan shad, siin dan zai dan tidak berubah arti.Shiraathal mustaqiim, jalan yang lurus yang jelas tidak berliku-liku. Shiraatal mustaqiim, ialah mengikuti tuntunan Allah dan Rasulullah saw. Juga berarti Kitab Allah, sebagaimana riwayat dari Ali r.a. yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Asshiratul mustaqiim kitabullah'. Juga berarti Islam, sebagai agama Allah yang tidak akan diterima lainnya. An Nawas bin Sam'aan r.a. mengatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah mengadakan contoh perumpamaan suatu jalan (shirrat) yang lurus, sedang di kanan-kiri jalan ada dinding dan di pagar ada pintu-pintu terbuka, pada tiap pintu ada tabir yang menutupi pintu, dan di muka jalan ada suara berseru, "Hai manusia masuklah ke jalan ini, dan jangan berbelok dan di atas jalanan ada seruan, maka bila ada orang yang akan membuka pintu dipenngatkan, 'Celaka anda, jangan membuka, sungguh jika anda membuka pasti akan masuk'. Shiraat itu ialah Islam, dan pagar itu batas-batas hukum Allah dan pintu yang terbuka ialah yang diharamkan Allah- sedang seruan di muka jalan itu ialah kitab Allah, dn seruan di atas shiraf ialah seruan nasihat dalam hati tiap orang muslim. (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa'i).
Tujuan ayat ini minta taufik hidayat semoga tetap mengikuti apa yang diridai Allah, sebab siapa yang mendapat taufik hidayat untuk apa yang diridai Allah maka ia termasuk golongan mereka yang mendapa nikmat dari Allah daripada Nabi shiddiqin, syuhada dan shalihin. Dan siapa yang mendapat taufik hidayat sedemikian berarti ia benar-benar Islam berpegang pada kitab Allah dan sunnaturrasul, menjalankan semua perintah dan meninggalkan semua larangan syariat agama. Jika ditanya, "Mengapakah seorang mukmin harus minta hidayat, padahal ia bersalat itu berarti hidayat?" Jawabnya, "Seorang memerlukan hidayat itu pada setiap saat dan dalam segala hal keadaan kepada Allah supaya tetap terus terpimpin oleh hidayat Tuhan itu, karena itulah Allah menunjukkan jalan kepadanya supaya minta kepada Allah untuk mendapat hidayat taufik dan pimpinan-Nya. Maka seorang yang bahagia hanyalah orang yang selalu mendapat taufik hidayat Allah. Sebagaimana firman Allah dalam ayat 136, surat an-Nisa:
"Hal orang beriman percayalah kepada Allah dan Rasulullah" (an-Nisa 136).
Dalam ayat ini orang mukmin disuruh beriman, yang maksudnya supaya terus tetap imannya dan melakukan semua perintah dan menjauhi larangan, jangan berhenti di tengah jalan, yakni istiqamah hingga mati.

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus,
Menurut Ibnu Abbas, kata “tunjukkanlah kami” (اهْدِنَا) berarti “berilah kami ilham.” Sedangkan “jalan yang lurus” (xالصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ) berarti kitab Allah. Dalam riwayat lain “jalan yang lurus” itu adalah agama Islam. Selain itu, ada juga riwayat yang menyatakan bahwa ia berarti “al-haqq” (kebenaran). Dengan demikian, menurut Ibnu Abbas lagi, kalimat “tunjukkan kami jalan yang benar” berarti “berilah kami ilham tentang agama-Mu yang benar, yaitu tiada tuhan selain Allah satu-satunya; serta tiada sekutu bagi-Nya.”[38]
Kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) dalam ayat di atas mempunyai tiga macam cara membaca (qiraat). Pertama, mayoritas qari, membacanya dengan dengan huruf shad, sebagaimana yang tercantum dalam mushaf Utsmani.Kedua, sebagian lain membacanya dengan huruf siin, sehingga menjadi (السِرَاط).  Ketiga, dibaca dengan huruf zay (ز), sehingga menjadi (الزِراَط). [39]Sedangkan menurut bahasa, seperti dikatakan at-Thabari, kata ash-shirath (الصِّرَاطَ) berarti jalan yang jelas dan tidak bengkok.[40]
Kataاهْدِنَا  berasal dari akar kata hidayah (هداية). Menurut al-Qasimi, hidayah berarti petunjuk –baik yang berupa perkataan maupun perbuatan– kepada kebaikan. Hidayah tersebut diberikan Allah kepada hamba-Nya secara berurutan. Hidayah pertama diberikan Allah kepada manusia melalui kekuatan dasar yang dimiliki manusia, seperti pancaindra dan kekuatan berpikir. Dengan kekuatan inilah, manusia bisa memperoleh petunjuk untuk mengetahui kebaikan dan keburukan.
Hidayah kedua adalah melalui diutusnya para Nabi. Macam hidayah ini terkadang disandarkan kepada Allah, para rasul-Nya, atau Alquran. Hidayah tingkatan ketiga adalah hidayah yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya yang karena perbuatan baik mereka. Hidayahkeempat adalah hidayah yang telah ditetapkan oleh Allah di alam keabadian. Dalam pengertian hidayah keempat inilah, maka Nabi Muhammad tidak berhasil mengajak sang paman, Abi Thalib, untuk masuk Islam. (Tafsir Dari Pandangan Ulama  IMAM SYAFII hal. 41)
Pada ayat ke 6 surat Al-Fatihah memiliki arti “Tujukkanlah Kami Jalan yang Lurus” berdasarkan tafsir-tafsir yang telah dikaji oleh berbagai pendapat para ulama di atas bahwasanya jalan yang lurus merupakan jalan orang-orang yang selalu dirodhoi oleh Allah, seperti halnya jalan Shiratthol Mustakim yang nantinya manusia semua akan melewatinya, jalan ini lurus  tidak berbelok-belok dan tajam. Jadi barang siapa saja yang lenga akan terprosok ke dalam tempat yang hina yaitu neraka. Begitu besar makna yang terkandung dalam Surat Al-Fatihah ini sehingga, surat ini wajib dibaca dalam setiap rokaat dalam sholat, jikalau terlupa atau tertinggal bacaan surat Al-Fatihah ini maka tidak Syahlah Sholatnya.
Jalan yang lurus memiliki makna yang dalam karena benar-benar jalan yang  menuju kepada-Nya, baik dari segala bidang atau urusan dalam dunia ini harus berpedoman pada jalan yang lurus. Jadi jelaslah bahwasanya mengapa dalam surat al-fatihah mempunyai makna jalan yang lurus bukan jalan yang benar, jalan yang lurus merupakan jalan yang tidak berbengkok-bengkok lurus tertuju pada ajaran yang telah tertera dalam Al-quran dan Sunah nabi. Sedangkan jalan yang benar merupakan jalan yang telah dianut oleh Rasulullah dan para sahabatnya, terkadang anggapan orang berbeda-beda terkadang jalan yang  kita tuntun atau yang kita lewati sudah benar ternyata salah, karena kita hanya bisa mengikuti ajaran-ajaran yang terdahulu telah menjadi tradisi selama ini, kita tidak menetahui apakah jalan atau amalan-amalan yang kita ikuti selama ini terdapat dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul atau hanya sekedar ajaran yang mengada-adakan hal ini yang disebut dalam bidah. Jadi jalan yang benar merupakan jalan yang telah di ajarkan oleh Rasulullah dan telah diikuti oleh para  sahabat-sahabat beliau. Apabila seseorang itu berada di atas atsar, maka itu artinya dia berada di atas jalan yang benar.” (lihat Da’a’im Minhaj Nubuwwah, hal. 47). Dari uraian di atas jelaslah bahwasanya kita sebagai makhluk ciptaan Allah harus selalu berdoa dalam setiap rokaat sholatnya untuk selalu berda di jalan yang lurus. Karena jalan yang lurus ini lah jalan yang hanya menuju pada satu arah yaitu kepada sang kholik. Supaya dalam mengatasi segala perkara dan permasalahan di dunia ini  memang benar-benar dengan jalan istikomah yang lurus kepada-Nya dan tidak berbelok-belok seperti halnya jembatan shirat yang lurus dan tajam.  Kita memohon agar Allah  selalu menujukkan kita jalan lurus itu, sehingga sampai dengan cepat kepada yang dituju, jangan membuang waktu pada usia yang hanya sedikit, merencah-rencah dan terperosok ke jalan lain. Maka yang diminta ialah agar seluruh keperibadian kita, yang mengandung akal, nafsu syahwat, perasaan, kemauan, terkumpul menjadi satu dalam petunjuk hidayah Tuhan.

Sumber:
Muslim. Tafsir Al-fatihah. 2012. http://www.muslimsays.com/2012/01/tafsir-al-fatihah-ihdinash-shirathal.html. posting: Januari 2012. Pukul 3:20 PM
Wisata Kompasiana. 2013. Semua Orang Kelak Melalui Jembatan Shirath. http://wisata.kompasiana.com/jalan-jalan/2013/11/06/semua-orang-kelak-melalui-jembatan-shirath-608106.html. Posting 06 November 2013  06:07
Yusray. 2013. Tafsir Surat Al-Fatihah. http://yusray09.blogspot.com/2013/05/www.fxmuchtar.blogspot.com.html. Posting: Kamis 23 Mei 2013.
Nama   : Nuning Surya Lestari
NPM   : 116210123
Kelas   : 6E
M.K     : Semantik
Soal
1.      Apakah ada perbedaan makna referensial dan non referensial ?
2.      Mengapa makna afektif lebih terasa secara lisan dari pada tulisan ?
3.      Jelaskan perbedaan makna setilistika !
4.      Jelaskan perbedaan yang mendasar idiom penuh dan makna idiom sebagian !
5.      Jelaskan idiomatikal dan peribahasa !
6.      Jelaskan perbedaan makna istilah dengan makna kata !
7.      Jelaskan makna yang sama antara idiom ungkapan dan metafora !
8.      Jelaskan makna leksikal dan denotatif !
9.      Jelaskan penyebab perubahan makna konotasi dapat berubah dari maktu-kewaktu?
10.  Jelaskan makna kolokatif !

Jawaban !
1.      Apakah ada perbedaan makna refensial dan non ferensial ?
Antara makna refensial dan makna non refensial terdapat perbedaan dari segi ada atau tidaknya makna kata yang referen dengan sesuatu yang di luar bahasa. Hal ini dapat dilihat dari pengertiannya, makna referensial adalah sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Sedangkan pengertian makna non refensial adalah kata-kata yang tidak mempunyai referen, maka kata tersebut disebut makna non referensi.  Jadi dapat simpulkan perbedaan antara makna refensial dengan non refensial dapat dilihat pada kata yang menjadi acuan antara kata dengan sesuatu makna di luar bahasa. Contoh, kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna refensial, karena keduanya mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut “meja” dan “kursi”. Sedangkan kata karena dan kata tetapi termasuk kata yang bermakna non referensial.

2.      Mengapa makna afektif lebih terasa secara lisan dari pada tulisan ?
Karena makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawab bicara maupun terhadap objek yang dibicarakan. Sehingga lebih terasa  secara lisan, dari bahasa lisan inilah dapat kita ketahui secara langsung bahwa pembicara apakah sedang keadaan marah, sedih, senang ataupun bahagia, pembicara suka atau tidak dengan keadaan atau objek yang sedang dihadapinya. Jika ia merasa senang pastikan mengucapkan kata-kata atau kalimat yang enak didengar, sedangkan kalau pembicara merasa tidak suka dengan keadaan atau objek yang dihadapinya pasti ia akan menggucapkan kata-kata atau kalimat yang kurang berkenan di hati.

3.      Jelaskan perbedaan makna setilistika !
Makna setilistika berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubungan dengan adanya perbedaan sosial dan bidang kegiatan di dalam masyarakat. Karena itulah, dibedakan kata rumah, pondok, istana,  keraton, kediaman, tempat tinggal, dan residensi. Hal ini terjadi karena dilihat dari cara pandang dan fungsinya  di dalam masyrakat, sehingga kata rumah, istana,  keraton, kediaman, tempat tinggal, dan residensi, memiliki makna yang berbada-beda dalam pandangan masyarakat.

4.      Jelaskan perbedaan yang mendasar antara idiom penuh dan makna idiom sebagian !
Idiom penuh merupakan idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan suatu kesatuan dengan satu makna. Misalnya, membanting tulang memiliki makna bekerja keras. Sedangkan idiom sebagian masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya sendiri. Misalnya, daftar hitam memiliki makna daftar yang berisi nama-nama orang yang dicurigai/dianggap bermasalah. Jadi dapat disimpulkan perbedaan yang mendasar antara idiom penuh dengan idiom sebagian adalah jika idiom penuh unsur-unsurnya secara keseluruhan merupakan satu kesatuan dengan makna/ maknanya tidak  dapat diramalkan secara leksikal maupun gramatikal, sedangkan idiom sebagaian unsur-unsurnya sebagian masih ada yang memiliki makna leksikal atau  makna yang sebenarnya.

5.      Jelaskan idiomatikal dan peribahasa !
Idomatikal adalah makna sebuah bahasa kata, frasa, atau kalimat yang menyimpang dari makna leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frasa atau kalimat)  tidak ada jalan lain selain mencarinya di kamus. Sedangkan peribahasa maknanya masih dapat diramal karena adanya asosiasi atau tautan antara makna leksikal dan makna gramatikal unsur-unsur pembentuk pribahasa itu dengan makna lain yang menjadi tautanya. Pribahasa ini bersifat membandingkan atau mengumpamakan maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Kata-kata seperti bagai, bak, laksana, dan umpama. Memang banyak juga pribahasa yang tanpa menggunakan kata-kata tersebut, namun kesan pribahasanya itu tetap saja tampak. Misalnya, tong kosong nyaring bunyinya.

6.      Jelaskan perbedaan makna istilah dengan makna kata !
Perbedaan Makna istilah atau makna khusus dan makna kata atau makna umum adalah dari segi halus atau tidaknya kata. Kata yang bermakna umum lebih luas pemakaiannya dari pada kata yang bersifat khusus. Misalnya kata bersifat umum melihat, sedangkan kata yang bersifat khusus seperti mengintip.

7.      Jelaskan makna yang sama antara idiom, ungkapan, dan metafora !
Idom, ungkapan dan metafora jika dilihat dari objek kajiannya adalah sama, sedangkan dikaji dari segi pandanganya berlainan. Ketiga istilah ini sama-sama mengkaji tentang bahasa berdasarkan perumpamaan atau istilah bahasa dalam menyatakan sesuatu.

8.      Jelaskan makna leksikal dan denotatif !
Makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indra, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan.  Misalnya, kata tikus makna leksikalnya adalah sebangsa binatang pengerat yang dapat menyebabkan timbulnya penyakit tifus.
Makna gramatikal adalah adalah makna yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal seperti proses afiksasi, proses reduplikasi, dan proses komposisi. Proses afiksasi awalan ter- pada kata angkat dalam kalimat batu seberat itu terangkat juga oleh adik melahirkan makna “dapat”, dan kalimat ketika balok itu ditarik, papan itu terangkat ke atas malahirkan makna gramatikal “tidak sengaja”. Jadi dapat disimpulkan bahwa makna leksikal adalah makna yang ada dalam kamus atau makna yang sebenarnya, sedangkan makna gramatikal adalah makna kata yang timbul akibat proses gramatiakal seperti afiksasi, reduplikasi dan lain-lain. 
9.      Jelaskan penyebab perubahan makna konotasi dapat berubah dari maktu-kewaktu?
Penyebab makna konotasi berubah dari waktu-kewaktu, karena bahasa bersifat dinamis yang selalu berkembang dalam kehidupan bermasyarakat dan sudah menjadi sifat manusia selalu memperhalus  pemakaian bahasa. Oleh sebab itu diusahakan membentuk kosa kata atau istilah baru yang dianggap lebih sopan dan enak  diucapkan oleh penutur dan didengar oleh mitra tutur.
10.  Jelaskan makna kolokatif !
Makna kolokatif berkenaan dengan makna kata dalam kaitanya dengan makna kata lain yang mempunyai “tempat” yang sama dalam sebuah frase (ko =sama, bersama; lokasi = tempat). Misalnya, kita dapat mengatakan gadis itu cantik, bunga itu indah, dan pemuda itu tampan. Tetapi kita tidak dapat mengatakan *gadis itu tampan; *bunga itu molek; dan *pemuda itu cantik. Kata cantik, indah, tampan dan molek memiliki makna yang sama, tetapi masing-masing terikat dengan kata-kata tertentu dalam suatu frase.

Kamis, 27 Maret 2014

Gaya Bahasa pada Puisi Kepak Burung Srindit


Kepak Burung Srindit
Karya: Sujud Arismana
Sembahku serumit
Sekerumunan nadi
Yang terpukat
Menghabiskan
Letup sebasahan
Keringatmu

Sebenarnya purnama
Telah menangis
Celupkan cahaya
Di luhak-luhak
Tunas matamu
Yang menggelepar

Cibiran jatayu sulung
Menumpas angkara
Yang hendak merau
Sayapmu

standan peluk biduan
Terasa hangat
Menyelimutiku
Kau lengserkan
Siulan termedumu
Ke telukku
Tapi jangan bilang
Kau hilang
Juka semua orang
Menjadikanmu ada

Pekanbaru, Mei 2012

Analisis gaya bahasa berdasarkan sajak “Kepak Burung Serindit”  Karya Sujud Arismana.
Berdasarkan sajak puisi “Kepak Burung Serindit” dapat dikategorikan ke dalam unsur gaya bahasa yang dikandungnya, misalnya gaya bahasa Enumerasio, personifikasi, hiperbola, Alusi, dan metafora. Sajak-sajak puisi ini akan dianalisis sebagai berikut.
Sembahku serumit
Sekerumunan nadi
Yang terpukat
Menghabiskan
Letup sebasahan
Keringatmu
            Pada sajak puisi di atas termasuk ke dalam gaya bahasa Enumerasio, karena di dalam sajak tersebut memiliki makna bahwa beberapa peristiwa yang membentuk satu kesatuan, dilukiskan, satu persatu agar tipa peristiwa dalam keseluruhannya tanpak dengan jelas.
Semabahku serumit sekerumunan nadi, termasuk ke dalam gaya bahasa  hiperbola, yang memiliki makna yang berlebih-lebihan, kalimat atau frasa yang di bentuknya memiliki makna yang tidak sesungguhnya dan melebih-lebihkan.
Yang terpukat
Menghabiskan
Letup sebasahan
Keringatmu
       Sajak puisi di atas termasuk kedalam gaya bahasa  personifikasi yang memiliki makna yaitu, gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup. Seperti kata menghabiskan seolah-olah keringat itu bersifat makhluk hidup yang bisa menghabiskan letupan sebahasan keringat.
            Sajak puisi “Sebenarnya purnama telah menangis” termasuk kedalam gaya bahasa personifikasi karena memiliki makna bahwa gaya bahasa yang mengumpamakan benda mati sebagai makhluk hidup. Tidak lah mungkin sebuah purnama menangis, Karena kita ketahui bahwa purnama merupakan benda mati, bukan makhluk hidup.
Celupkan cahaya
Di luhak-luhak
Tunas matamu
Yang menggelepar
            Sajak puisi di atas termasuk ke dalam jenis gaya bahasa Personifikasi, karena menyatakan bahwa benda mati seolah-olah hidup. Dapat dikaji bahwa mana mungkin “celupkan cahaya di luhak-luhak tunas matamu yang menggekepar”, dalam sajak puisi ini memiliki kata kunci celupkan cahaya, yang menggelepar, sajak inilah yang menandakan bahwa sajak puisi ini termasuk ke dalam gaya bahasa personifikasi.
Cibiran jatayu sulung
Menumpas angkara
Yang hendak merau
Sayapmu

            Sajak puisi di atas termasuk ke dalam gaya bahasa hiperbola karena terdapat kalimat “cibiran jatayu sulung menumpas angkara yang  hendak merau sayapmu”, gaya bahasa hiperbola ini memiliki makna yang berlebih-lebihan, hal ini dapat kita lihat pada sajak puisi, tidaklah mungkin dengan cibiran jatayu sulung dapat menumpas angkara, dimana kita ketahui angkara merupakan kebisingan. Jadi jelaslah bahwa sajak puisi ini termasuk ke dalam gaya bahasa hiperbola.
 standan peluk biduan
Terasa hangat
Menyelimutiku
            Pada sajak puisi di atas termasuk ke dalam gaya bahasa Antiklimak karena menyatakan bahwa beberapa hal berurutan semakin lama semakin menurun. Hal ini terlihat pada sajak  puisi yaitu “setandan peluk biduan, terasa hangat  menyelimutiku” maksudnya segugus pelukan wanita memberi rasa hangat dan akhirnya dapat menyelimuti tubuh yang telah lelah.   
Kau lengserkan
Siulan termedumu
Ke telukku
            Pada sajak puisi di atas termasuk ke dalam gaya bahasa alusi. Gaya bahasa alusi merupakan gaya bahasa yang menghubungkan sesuatu dengan orang, tempat atau peristiwa. Makna dari sajak puisi “Kau lengserkan Siulan termedumu Ke telukku” bahwa ada sebuah pemimpin yang melengser atau mengalihkan suara termedu untuk meminta pertolongan”
Tapi jangan bilang
Kau hilang
Jika  semua orang
Menjadikanmu ada
            Pada sajak puisi di atas termasuk ke dalam gaya bahasa apofasis atau preterisio. Gaya bahasa apofasis atau preterisio adal gaya bahasa dimana penulis atau pengarang mengaskan sesuatu, tapi tampaknya menyangkal. Sajak puisi “Tapi jangan bilang Kau hilang Jika  semua orang Menjadikanmu ada” memiliki arti bahwa jangan menganggap kita itu tak berguna, atau jangan merendahkan diri.  Apadahal orang disekitarmu membutuhkanmu dan menggap kamu berguna.